Powered By Blogger

Minggu, 04 Desember 2011

tafsir cuplikan

Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu ke lehermu dan jangan lah engkau terlalu mengulurkannya karena itu menjadikanmu duduk tercela dan tidak memiliki kemampuan “.
Setelah ayat yang lalu memerintahkan agar bermurah tangan dan hati, kini dilarangnya melakukan lawannya yaitu; dan janganlah enggkau enggan mengulurkan tanganmu untuk kebaikan seakan-akan engkau jadikan tanganmu terbelenggu dengan belenggu kuat yang terikat dan janganlah juga engkau terlalu mengulurkannya sehingga berlebih-lebihan dalam berinfak karena itu menjadikanmu duduk tidak dapat berbuat apa-apa, lagi tercela oleh dirimu sendiri atau orang lain kerena boros, berlebih-lebihan, dan menyesal tidak memiliki kemampuan karena telah kehabisan harta.
Kata (محسورا) mahsuran terambil dari kata (حسر) hasara berarti tidak berbusana, telanjang, atau tidak terutup. Seseorang yang tidak memakai tutup kepala dinamai Hsiru ar-Ras. Seseorang yang keadaanya tertutup, dari segi rezeki adalah yang memiliki kecukupan sehingga dia tidak perlu berkunjung kepada orang lain dan menampakkan diri untuk meminta karena itu dia membuka kekurangan atau aibnya.
Ada juga ulama yang berpendapat bahwa kata tersebut terambil dari kata (حسير) hasir yang digunakan untuk menunjukkan binatang yang tidak mampu berjalan karena lemahnya sehingga mandek tinggal di tempat. Nah, demikian juga pemboros, pada akhirnya akan mandek dan tidak mampu melakukan aktiviitas, baik untuk dirinya sendiri apalagi bai orang lain, sehinga terpaksa hidup tercela.
Ayat ini merupakan salah satu ayat yang menjelaskan salah satu hikmah yang sangat luhur, yakni kebajikan yang merupakan pertengahan antara dua ekstrim. Keberanian adalah pertengahan antara kecerobohan dan sifat pengecut. Kedermawaan adalah pertengahan antara pemborosan dan kekikiran. Demikian seterusnya.
Sementara ulama menjadikan kata (ملوما) maluman tercela merupakan dampak dari kekikiran, sedang (محسورا) mahsuran/tidak memiliki kemampuan adalah dampak dari pemborosan.

AYAT 30
sesungghunya tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa Dia kehendaki dan menyempitkanya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui Lagi Maha Melihat hamba-hamba-Nya “.

Karena salah satu sebab utama kekikiran adalah rasa takut terjerumus dalam kemiskinan, lebih lanjut ayat ini mengingatkan bahwa: Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa Dia kehendaki untuk dilapangkan baginya dan menyempitkanya bagi siapa yang Dia kehendaki untuk disempitkan untuknya; sesuungguhnya Dia Maha Mengetahui watak dan kebutuhan semua makhluk lagi Maha Melihat hamba-hamba-Nya serta kondisi mereka, lalu karena itu Dia memberikan kepada masing-masing sesuai dengan kebutuhan dan kemaslahatan mereka. Dia yang memberi bila mereka melaksanakan faktor-faktor penyebabnya.
Ayat ini menunjukkan bahwa rezeki yang disediakan Allah swt. untuk hamba-Nya mencukupi masing-masing yang bersangkutan. Dari satu sisi, manusia hanya dituntut untuk berusaha semaksimal mungkin guna memperolehnya, kemudian menerimanya dengan rasa puas disertai dengan keyakinan bahwa itilah yang terbaik untuknya masa kini dan mendatang. Dari sisi lain, dia harus yakin bahwa apa yang gagal diperolehnya setelah usaha maksimal itu hendaknya dia yakin bahwa hal tersebut adalah yang terbaik untuk masa kini atau masa depannya. Karena itu, dia tidak perli melakukan kegiatan yang bertentangan dengan tuntunan Allah swt. untuk memperoleh rezeqi karena apa yang diperolehnya melalui jalan yang tidak dorestui Allah pasti akan merugikannya, kalau bukan sekarang didunia ini maka diakhirat kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar